h1

Malam pertama dengan si Rese’

Januari 23, 2009
Jika ada kebahagiaan paling sederhana di dunia ini, maka itu adalah saat kau bisa menarik nafasmu di tiap-tiap detiknya. Bisa memandang penuh kesyukuran lewat binar-binar jendela matamu.

Friday, January 23, 2009 06.58 AM

Malam gerimis dua belas jam yang lalu ternyata jadi first night yang kulalui dengan si rese’. Parahnya lagi, aku sama sekali ga menyangka akan membawa rese’pulang, apatah lagi tidur sekasur dengannya.

Sekarang mentari sudah meninggi, tapi aku masih asyik dengan si Rese’. Mencoba mengenali tiap-tiap incinya, menelusuri tiap lekuk tubuhnya. Rese’ sekarang tengah bersanding di pangkuanku. Ampun, ternyata ia berat juga. Awalnya kupikir ia tak seberat ini. Bisa pegal kakiku.

Rese’ tengah menyanyikan lagu Kerispatih. Dan aku menulis di keyboardnya.

Rese’, dengarlah ini baik-baik, kau dan aku akan menjadi teman hidup. Kau pasti akan menemaniku merajut hari-hari. Lebih lagi saat aku di Sorowako nanti, kau akan jadi bukan hanya teman tidurku, tapi juga teman siangku, teman soreku, dan seterusnya. Dan karena aku suka menulis, kuharap kau tak akan bawel. Jangan pernah menyusahkanku kalau aku ingin mengetik di office-mu. Sudah syukur kau kubawa denganku. Kau harusnya tahu aku lebih memilih si Compaq, si joybook, ataupun si Pico dibanding kamu. Tapi sepertinya ini sudah takdir kita.

Dan semalam kau telah duduk manis di ranjangku, menontoniku tidur.

Siapa sangka Rese’, ternyata kau jadi leptop pertamaku. Padahal aku benci minta ampun sama merkmu : acer. Dosenku bilang acer itu kependekan dari AlatCEpatRusak. Tapi ga tahu kenapa tadi malam di belantara hutan pertokoan leptop, aku memilih si gendut ini untuk kebawa pulang.

Sumpah aku menginginkan notebook-notebook kecil ramping berbaju warna-warni. Tapi menimbang bahwa aku (sepertinya) akan bekerja dengan gambar dan seterusnya di COOPS nanti, maka tak mungkin aku membawa pulang mereka yang hanya berprosessor Atom.

Dan duitku memang hanya cukup buatmu, Rese’. Siapa coba yang akan menolak notebook putih cantik Ben-Q itu? Namun karena harganya dua belas juta, aku jadi orang pertama yang menolaknya.

Pagi dah hampir habis. Sekarang sudah pukul tujuh. Kupikir sudah saatnya kamu sarapan, alias ngisi batere. Aku juga harus mandi, nyuci, belajar.

Ah, ya, kamu dapat salam dari papah. Semalam ia sampai sakit gigi menemaniku mencari-carimu.

h1

ahmadinejad

Desember 28, 2008

aku mendamba menjadi orang sederhana sepertimu

aku mendamba menjadi pemimpin layaknya engkau

yang dihadiahi cinta rakyatmu

dan aku

tak henti mendamba menjadi seorang pemberani

just like you…

h1

Tamalanrea

Desember 16, 2008

Katamu; Disini seperti negeri ajaib, dan kita Alice yang riang bersenandung mencari kejutan di tiap kemungkinan yang kita temui.
Kita Peter Pan yang terus bermain, kanak-kanak yang terus tertawa,
tanpa takut harus menjadi dewasa dan tak bahagia.
disinilah, tempat dimana waktu hanya berarti hari yang terus berjalan
tapi tak ada yang beranjak tua.

Ini Tamalanrea. Tempat mimpi seperti abadi.

AKS, Makassar 2008

Duh, kak Ahmad… Puisimu mewakili pendar-pendar pikiran yang beterbangan di benakku.
Kala aku masih mencari, kau telah mengejawantahkannya dalam sebuah puisi.
Aku merasa kita memang Alice.
Dan aku sungguh berat meninggalkan negeri ajaib ini, walaupun untuk dua bulan kerja praktek di Sorowako.
Tapi kau tahu, ada mekanisme gaib yang terjadi di tiap-tiap pergerakan roda kehidupan.
Aku bahkan tak tahu bagaimana mereka bekerja. Yang jelas satu telah terjadi padaku.
Aku harus meninggalkan istana tiga tahunku…
Dan membangun yang baru, entah di mana.

Tapi aku masih di Tamalanrea.
Menghirup udara wonderland abadi. Sungguh, kadangkala aku merasa aku sama denganmu.
Meski tentu saja tidak…!

h1

Menjelang Pimred Baru

Desember 13, 2008

Saat ini pukul sepuluh pagi. Dua belas jam lagi, perhelatan akbar pemilihan redaktur pelaksana PK. identitas untuk tahun 2009 nanti  bakal digelar. Idham Malik, bakal istirahat dari kursi kepemimpinan tertinggi di suratkabar kampus Unhas itu. Ia telah menggenggam kepemimpinan untuk setahun penuh. Dan pastinya akan menghembus  lega setelah pimred baru diretas  nanti malam.

Pagi tadi si marun sony-ku berbunyi. Kak Iqbal menelfon, memohon agar aku tidak mengalamatkan vote-ku padanya. Ada jutaan alasan logis yang dia gumamkan untuk itu.

Blunder.

Enatah aku akan mencoblos siapa.

h1

Rintik Hujan Di Tamalanrea

Desember 13, 2008

Berhari-hari sudah hujan mengguyur dan lembab memenuhi atmosfer. Kampus merah Unhas jadi semakin hijau. Namun selasar-selasar jalan selalu becek tergenang air. Sangat tak nyaman jika berjalan dengan sepatu canvas. Sudah pasti kakimu akan basah dan rentan terkena kutu air;)

Maka bukan pemandangan aneh jika mahasiswa mahasiswi kebanyakan datang ke kampus dengan sandal. Sebagian lagi ada yang membekali diri dengan sepatu yang disimpan rapi di dalam tas. Dipakai hanya jika jam kuliah tiba, demi etika dan kesopanan tentunya. Sebagian mahasiswi beralih ke sepatu plastik buatan China. Sepatu macam sungguh ini bisa diandalkan saat musim hujan datang. Harganya yang murah khas produk China daratan-bisa mencapai hanya Rp. 10.000 sepasang-berbanding terbalik dengan daya tahannya terhadap air. Waterproof-lah.

Ini musim hujan pertama yang kulalui di pondokan. Aku yang tinggal di kawasan pondokan sejak enam bulan lalu, sebelumnya menghabiskan  dua setengah tahun menumpang tinggal  di BTN Hamzy.

Kawasan pondokan Unhas seperti meringis diterpa hujan. Di sepanjang jalan Lingkar Poltek, air kadang menggenang hingga mata kaki jika hujan datang. Jalan semakin sesak dan ruwet. Becek kecokelatan. Trotoar yang keropos di bahu kiri dan kanan jalan.

Namun bagaimanapun, bumi pondokan tak kan pernah sepi. Tak jua kehilangan pengunjung. Sekumuh apapun, sebasah apapun. Ada atmosfer hangat di sini. Hangatnya pergumulan persahabatan.  Yang menyeruak ke udara, menjadi semacam magnet yang memanggil-manggil. Interaksi sosial yang begitu lekat.

Di sini sudah jutaan memori dan kenangan terbungkus rapi. Hujan yang datang seperti membangunkan arwah-arwah kenangan. Di sudut-sudut jalan, kamar-kamar, hingga gerobak-gerobak nasi goreng di sepanjang kanal. Ada cerita panjang yang pernah dirajut di sana. Yang akan sulit lekang dan mengendap di sudut hati.